Kamis, 23 Juli 2015

Alkisah Perjalanan Sri Arya Sentong dengan Ki Pasek Prenatha.

Terkisahkan di jaman dahulu Ri saka 1047-1125 Masehi berdirilah kerajaan di Bali yang bertempat di Gegel,  raja pada waktu itu bernama Paduka Prabu Sri Arya Kahoripan yang didampingi oleh adiknya yang bernama Sri Arya Sentong dan Sri Arya Damar dimana Sri Damar diangkat sebagai Adipati raja Gegel.
Diceriterakan Paduka prabu Sri Arya Kahoripan, Sri Arya Sentong dan Sri Arya Damar memperistri tiga putri dari Brahmana Ketepeng Reges dimana ketiga putri itu tiga Brahmani bersaudara, Brahmani yang pertama diperistri oleh Sang Prabu Kahoripan, Brahmani yang kedua diperistri oleh Sri Arya Damar dan Brahmani yang ketiga diperistri oleh Sri Arya Sentong.Tidak lama kemudian diceriterakan ketiga Brahmani sama-sama menurunkan seorang putra dimana putra Prabu Kahoripan bernama Sri Ratu Anom, Putra Arya Damar bernama Sri Arya Yasan dan Putra Sri Arya Sentong bernama Sri Arya Pacung.
Diceriterakan ketiga putra-putra tersebut sudah berumur 3 tahun dimana saat itu sedang dibangunnya Pura besakih. Sedangkan ketiga putra tersebut diemban oleh sang denawa yang bernama Kebo Lawean,putra Sang Prabu Kahoripan Sri Ratu Anom digendong di baunya,putra Sri Arya Damar Sri Arya Yasan digendong di lengan kanannya dan putra Sri Arya Sentong Sri Arya Pacung digendong ditangan kirinya diajak menghadap betara siwa.
Diceriterakan Sang Prabu kahoripan yang diiringi para punggawa dan baudanda dan para pepatih meninjau pembangunan pura Besakih,dimana sudah dibangun pondasi pelinggih padma tiga dan kemudian Ida Sang Prabu Kahoripan dikagetkan oleh sang Kebo Lawean beserta putra putra sang prabu diturunkan di pondasi Padma tiga tersebut,dan di dasar padma tiga itulah ke tiga putra sang prabu berdiri Sri Ratu Anom Berdiri Di tengah,Sri Arya Yasan Berdiri Di Kanan dan Sri Arya Pacung berdiri di kiri,dan saat itulah sang prabu bersabda dihadapan para pengikutnya menerangkan bahwa anak anaknya itulah dipakai lambang dalam padma tiga, Sri Ratu Anom di tengah,Sri Arya Yasan dikanan dan Sri Arya Pacung dikiri.
Tidak lama kemudian terkisahkan rakyat Bali tertimpa musibah dan banyak rakyat Bali meninggal dan menghilang bagaikan ditelan bumi, sehingga diutuslah Sri Arya Sentong untuk mengatasi masalah yang terjadi menimpa rakyat Bali, dan berangkatlah Sri Arya Sentong beserta keluarga dan beberapa pengikutnya dengan membawa sebilah keris pusaka yang bernama Ki sekar sandat, sesampainya di pantai Lebih tidak diduga bertemulah Sri Arya Sentong dengan Ida Betara Kala dan bersabda “Wahai Sri Arya Sentong engkau hendak kemana ini hamba menganugerahi sebilah Tombak yang hamba cabut dari taring hamba dan tombak ini hamba beri nama Ki Ulang-ulang Guguh dan hamba beritahukan dengan membawa pusaka ini bagaimanapun saktinya musuh yang menghadang janganlah mau minggir, dan hamba mohon janganlah pergi meninggalkan Bali”. Sri Arya Sentong Umatur ”Singgih Paduka Betara, maafkanlah hambamu ini sebetulnya hamba mau kembali ke Jawa, karena mendengar sabda Bertara niat hamba ,jadi hamba batalkan, dan hamba mau pamit akan melanjutkan perjalanan”.
Terkisahkan Sri Arya Sentong perjalanannya telah sampai di Nusa, setelah berselang tiga bulan berada di Nusa datanglah utusan dari Puri Gegel untuk menyampaikan pesan raja agar Sri Arya Sentong balik ke Puri Gegel, karena mengingat sabda Sang Prabu kepada Sri Arya Sentong dimana Sabdanya adalah; Wahai adiku Sri Arya Sentong kalau keberadaan Puri Gegel tidak melanjutkan keturunan (Putung), maka keturunan Sri Arya Sentong untuk melanjutkan kerajaan Gegel, dan hamba mengangkat Sri Arya Penatih sebagai Adipati demikianlah sabda Sang Prabu Kahoripan yang diucapkan di depan para patih baudanda tanda mantri.
Terkisahkan utusan sang prabu tidak dipenuhi oleh Sri Arya Sentong dan beliau bersabda; Wahai paman kembalilah ke Gegel dan katakan hamba tidak akan kembali ke Gegel dan hamba hendak kembali ke Jawa..
Diceriterakan Sri Arya Sentong tinggal di Nusa sudah 30 tahun, dan putra Sri Arya Sentong yang bernama Sri Arya Pacung sudah berkeluarga dan menurunkan seorang putra bernama Sri Arya Putu yang bergelar I Gusti Ngurah Putu Pacung.
Terkisahkan Sri Arya Pacung mendapatkan tugas untuk mencari tengah-tengah Bali dan berangkatlah beliau beserta keluarga dan diiringi oleh beberapa pengikutnya dan lengkap membawa pusaka Ki Sekar sandat dan Ki Ulang-ulang Guguh.
Diceriterakan dalam perjalanan beliau bertemu dengan pasukan I Gst.Ngr Jelantik Blahbatuh, hingga pertempuran tidak terelakan lantaran dalam perjalanan tak mau minggir, sehingga pasukan I Gst.Ngr. Jelantik jadi murka dan pertempuran berlanjut sampai keduanya kelelahan karena sama-sama kebal, sehingga keduanya saling bertanya,I Gst.Ngr.Jelantik ngawali bertanya wahai tuan dari manakah gerangan dan siapa namamu begitu sakti tidak terluka oleh senjata sedangkan hamba ini adalah I Gst.Ngr.Jelantik Blahbatuh, Putra Sri Arya Sentong menjawab wahai Ngr.Jelantik hamba adalah Sri Arya Pacung putra dari Sri Arya Sentong, karena tahu bersaudara dan sama-sama sakti akhirnya bersalaman dan saling bertukaran pepetet (Sabuk), sabuk Poleng jelantik diberikan Putra Arya Sentong dan Sabuk putihnya Sri Arya Pacung diberikan Arya Jelantik.
Dikisahkan putra Sri Arya Sentong melanjutkan perjalanan dan tempat pertempuran Putra Arya Sentong dengan Arya Jelantik diberi nama Marga Sengkala karena pertempuran terjadi ditengah jalan.
Diceriterakan dari Marga Sengkala putra Sri Arya Sentong melanjutkan perjalanan yang diiringi oleh pengikutnya dimana salah satu pengikutnya bernama Ki Pasek Prenata/Mpu Prenata, dimana perjalanan beliau menuju ke arah barat.
Terkisahkan perjalanan beliau sampailah di Palwa Negara, disanalah beliau beristirahat dipinggir sungai penet, di sana dia menemukan Wulakan dan disekitarnya banyak terdapat pohon gatep, disanalah beliau melaksanakan tapa barata yoga semadi, lalu terdengar  adanya sabda akasa: Wahai engkau putra Sri Arya Sentong lanjutkanlah perjalananmu ke arah utara disana nantinya kalian akan mendapatkan kebahagiaan, demikianlah sabda yang didengar, putra Sri Arya Sentong yang bernama Sri Arya Pacung cukup lama bersemedi disana, dan beliau memberinama wulakan itu Kayuan Watan Gatep,ri saka 1185 atau 1263 M, ada sebuah batu seliwah berwarna merah kehitam-hitaman sebagai tempatnya awiduh/makan sirih, disana beliau membuat pemujaan Betara Nusa sebagai ucapan terima kasihnya kehadapan beliau dalam memberikan anugerahnya.
Selanjutnya putra Sri Arya Sentong bersama dengan Ki Pasek Prenatha disebelah utara ulakan ada sebuah kundi di Desa kapal di sana beliau mandi bersama dengan Ki Pasek Prenatha, namun setelah ia mendekat dengan air pancuran, tiba-tiba air pancuran tak lagi bergerak pariabel, gerakan air berbentuk sudut Sembilan puluh derajat, melihat peristiwa yang secara tiba-tiba itu, maka pancuran itu diberinama pancuran Empak yang lebih dikenal dengan nama pancuran Rempak, disanapun beliau membuat pemujaan Betara Nusa, dan putra Sri Arya Sentong melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Barat Laut yaitu melewati Alas kekeran sampai ke Alas kedaton sehingga berlanjut beristirahat ( Merarian ) di alas angker karena merasa nyaman sehingga disanalah beliau membangun Puri yang disebut dengan Puri Perean atau Desa Perean,dan disebelah timur puri dipinggir sungai beliau membangun sebuah pura taman yeh gangga.
Diceriterakan setelah berdirinya  Puri Perean di abad ke 12 dengan penyenengan Sri Arya Pacung,banyak Pura yang beliau bangun seperti Pura Pucak Sari,Pucak Sangkur,Pucak Apuan,Pucak Padang Dawa,Pucak Kembar dan Pura Teratae Bang.
Di Ceriterakan Putra Sri Arya Pacung yang bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung,cucu dari Sri Arya Sentong sudah berkeluarga menggantikan ayahnya menjadi penyeneng di Puri Perean yang menurunkan tiga orang putra; yang pertama bernama I Gusti Ngurah Gede Pacung,yang kedua bernama I Gusti Ngurah Made Pacung dan yang Ketiga bernama I Gusti Ngurah Nyoman Pacung.
Dikisahkan I Gusti Ngurah Gede Pacung menggantikan Ayahnya menjadi penyeneng,adiknya I Gusti Ngurah Made Pacung di utus ke Puri Tambangan Badung dan diangkat menjadi adipati,dan I Gusti Ngurah Nyoman Pacung diutus ke Puri Gelgel.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Gede Pacung menurunkan seorang putra yang bernama I Gusti Ngurah Gede Raka Pacung dan beliau menggantikan ayahnya menjadi penyeneng yang kemudian menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung.yang juga sebagai pengganti Ayahnya menjadi penyeneng menurunkan dua orang putra yan pertama bernama I Gusti Ngurah Pacung Gede dan Yang ke dua I Gusti Ngurah Rai.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Pacung Gede menurunkan empat orang putra
Yang pertama bernama I Gusti Ngurah Pacung Sakti,ke dua I Gusti Ngurah Made Buleleng yang tinggal di Desa Sembung,yang ke tiga I Gusti Ngurah Nyoman Bayam pindah ke Denbukit Petemon Singaraja dan yang keempat I Gusti Ngurah Babahan ke Desa Bluangan langsung ngungsi Denbukit Singaraja.Diceriterakan I Gusti Ngurah Nyoman Bayam dan I Gusti Ngurah Babahan yang tinggal di Desa Petemon yang sebagian besar menurunkan warih yang berada di Singaraja ( Di Kabupaten  Buleleng ).
Diceriterakan penyeneng Puri Perean I Gusti Ngurah Pacung Gede Yang digantikan oleh anaknya yang tertua yaitu I Gusti Ngurah Pacung Sakti.
Terkisahkan pemadegan I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang mempunyai seorang abdi yang  bernama I Papak,dimana dia berasal dari Desa Kintamani yang pindah tinggal di Desa Sembung dan ayahnya bernama I Ungasan trah dari Sri Arya Damar ( Arya Kenceng ),seorang I Papak jari tangannya tapak ( gempel ),di mana I Papak menjadi abdi yang sangat berbakti kepada penyeneng Puri Perean dan dia sangat disayang oleh raja.
Diceriterakan diwilayah kekuasaan Puri Perean yang letaknya dihutan angker di cau ada sebuah pedukuhan yang dihuni oleh Ki Dukuh Titi Gantung,dimana I Papak diperintahkan untuk membunuh Ki Dukuh Titigantung oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti dengan alasan karena saat I Gusti Ngurah Pacung Sakti bersama I Papak mampir kerumah Ki Dukuh diberikan Bahisan ( Suguhan habis upacara ),karena itulah permaesuri raja tidak terima dianggap Ki Dukuh bersalah,maka diutuslah I Papak untuk membunuhnya.
Terkisahkan saat I Papak menjalankan tugasnya untuk membunuh Ki Dukuh
Dan berkata kepada Ki Dukuh”wahai engkau Ki Dukuh hamba datang kesini diperintahkan untuk membunuh dirimu oleh Gusti junjunganku I Gusti Ngurah Pacung Sakti karena dirimu dianggap salah telah memberikan beliau bahisan suguhan habis upacara sehingga permaisuri jadi marah”dan perkataan I Papak membuat Ki Dukuh sangat kaget dan berkata”Wahai engkeu Papak hamba tidaklah takut mati,apalagi hamba telah dituduh memberikan bahisan/suguhan habis upacara itu sudah jalannya hamba untuk mati,tapi engkau tidaklah mampu membunuh hamba dengan keris yang engkau bawa biarpun semua keris yang berada di Puri tidak akan mempan untuk membunuh hamba,tapi begini wahai engkau Papak hamba akan siap mati,tolong sampaikan pesan hamba dengan I Gusti Ngurah Pacung Sakti nanti setelah hamba mati dan ini keris hamba Ki Barubantal pake membunuh hamba,setelah hamba mati tolong mayat hamba agar dikubur dalam keadaan berdiri,”karena hamba akan melihat tujuh keturunan beliau agarruntik pasemetonan,karena belaulah yang membuatkan hamba tempat dinirwana,dan siapa yang membawa KERIS KI BARUBANTAL milik hamba maka dialah yang akan menjadi penguasa disebelah barat sungai penet”.Dan apa yang disampaikan olek Ki Dukuh dilaksanakan oleh I Papak,dan disampakanlah pesannya Ki Dukuh kepada I Gusti Ngurah Pacung Sakti.Setelah mendengar pesan Ki Dukuh seperti itu yang disampaikan oleh I Papak maka I Gusti Ngurah Pacung Sakti kaget dan merasa bersalah telah menyuruh membunuh Ki Dukuh,yang akhit beliau marah kepada istrinya,karena gara gara istrinyalah beliau menjadi emosi,saat itu juga I Gusti Ngurah Pacung Sakti bersabda wahai engkau saudaraku serta semua keturunanku siapa saja yang memperistri trah Arya penatih hamba pasti agar rusak dalam keluarga “.
Di ceriterakan di Puri Perean I Gusti Ngurah Pacung Sakti mempunyai `seorang selir yang bernama Ni Luh Padang Aling yang berasal dari Padangaling,dan Ni Luh Padang Aling sedang hamil tapi belum di ketahui oleh seisi Puri.Di Ceriterakan I Papak mempunyai saudara (kakak) yang tinggal di Desa Sembung bernama I Gede Ungasan yang telah dibunuh pada saat beliau sedang sabungan ayam olek Ki Pasek Sembung, yang akhirnya I Papak berkeinginan untuk balas dendam,sehingga I Papak bergegas menghadap dengan Sang Prabu I Gusti Ngurah Pacung Sakti dan berkata”Wahai Ratu Sang Prabu hamba berkeinginan meminjam salah satu keris milik Sang Prabu untuk hamba pakai membalaskan dendam kakak hamba yang telah dibunuh diarena judi sabungan ayam,yang kemudian Sang Prabu berkata”wahai engkeu Papak silahkan engkau ambil di Gedong disana ada keris berjejer tiga yang paling timur adalah keris Ki Barubantal milik Ki Dukuh itu jangan diambil yang paling tengah engkau ambil,dan I Papak mengikuti perkataan Sang Prabu untuk mengambil keris yang ditengah,tapi sampai tiga kali dimabil paling tengah tapi diambil tetaplah paling timur yang diambil,akhirnya sang prabu bersabda memang I Papaklah yang memiliki Keris Ki Barubantal,dan langsung sang prabu menyuruh I Papak membawa keris tersebut untuk dibawa berperang juga I Papak diberikan pengiring 10 KK untuk membantunya membalaskan dendam kakaknya.yang kemudian I Papak berhasil membalas dendam,setelah itu tidak kembali dia ke Puri,tapi dia langsung ngerambah hutan di hutan klaci disanalah I Papak mendirikan rumah bersama pengikutnya yang 10 orang.
Diceriterakan keberadaan I Gusti Ngurah Pacung Sakti di Puri Perean yang sedang gelisah memikirkan I Papak yang lama tidak kembali ke puri ,kemudian disuruhlah seorang utusan untuk mencari I Papak yang akkhirnya I Papak ditemukan sudah mempunyai rumah di hutan klaci,yang kemudian sang utusan berkata”wahai engkeu Papak hamba diutus untuk mencari dirimu untuk balik ke Puri Perean oleh ida sang prabu”dan I Papak berkata wahai engkau utusan tolong beritahusang prabu bahwa hamba tidak akan balik ke Puri dan bilang hamba akan tetap berbakti dari sini terhadap sang prabu.dan kemudian apa yang disampaikan I Papak disampaikan kepada I Gusti Ngurah Pacung Sakti.Di ceriterakan keberdaan Ni Luh Padang Aling selir ida sang prabu yang  sedang hamil,yang akan diberikan I Papak untuk menikahinya,kemudian dipanggilah I papak untuk menhadap ke Puri Perean,dan I Gusti Ngurah Pacung Sakti bersabda kepada I Papak”Wahai engkau Papak ini selih hamba Ni Luh Padang Aling sedang hamil hamaba berikan dirimu untuk menikah dengannya,tapi hamba mohon rawatlah dia dan bayi yang ada dalam kandungan NI Luh Jepun,dan juga hamba mohon kepadamu sebelum bayi itu lahir janganlah engkau tidur bersama dengan Ni Luh Padang Aling,mengingat karena I Papak sangat subakti apa yang dikatakan sang Prabu dia ikuti.Diceriterakan I Papak sudah menikahi NI Luh Padang Aling dan diajak kerumahnya yang diberi nama Desa Marga,
Diceriterakan hamilnya Ni Luh Padang Aling sudah berumur enam bulan disuruh oleh I Papak suaminya  untuk dilukat/dibersihkan ke sang sulinngih ( Ida Pedanda ) tempatnya di Desa Cau ( Griya Manuaba Cau ) yang kemudian Ida Pedanda Grya Cau Keasmaran melihat kecantikan Ni Luh Padang Aling,akhirnya keberadaan Pedanda dilaporkan kepada I Gusti Ngurah Pacung Sakti,maka mendengar laporan I Papak membuat sang prabu jadi marah,kemudian diprintahlah I Papak agar membunuh Ida Pedanda,yang akhirnya dibunuhlah Ida Pedanda.
Diceriterakan adik dari I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang bernama I Gusti Ngurah Made Buleleng beliau tinggal di Desa Sembung,dimana beliau berkeinginan untuk membrontak ke Puri Perean bersama dengan mekel Sembung,kemudian keinginan I Gusti Ngurah Buleleng didengar oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti,dan mendengar puri Perean akan diserang jadi Puri Perean dalam keadaan siaga,lama ditunggu tunggu tidak ada serangan sampai keadaan menjelang malam,tapi saat I Gusti Ngurah Pacung Sakti berada diluar Puri tiba-tiba saja I Gusti Ngurah Made Buleleng menikamnya dengan keris dari belakang,yang akhirnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti meninggal,jasadnya langsung dikubur dengan bongkahan tembok kemudian tiba tiba saja kuburannya meledak muncul seekor NAGA KAANG bersayap yang di kendarai oleh jasad I Gusti Ngurah Pacung Sakti terbang menuju Nirwana,dan Puri Perean di Kuasai oleh I Gusti Ngurah Made Buleleng,yang kemudia I Gusti Ngurah Buleleng di serang oleh I Papak beserta putranya Ni Luh Jepun yang ceriteranya sudah menjelang dewasa yang diberi nama I Darya ( nama berasal dari kata Ida dan Arya ),kemudia I Gusti Ngurah Buleleng kalah dan lari ke Keliki Payangan.
Diceriterakan putra putra I Gusti Ngrurah Pacung Sakti beserta adik adiknya meninggalkan Puri perean diantaranya I Gusti Ngurah Pacung Gede,I Gusti Ngurah Rai,I Gusti Ngurah Abian Tubuh ini nyentana ke I Gusti Ngurah Sampalan Ubud, I Gusti Ngurah Negah Abian Tubuh ini tinggal di Bluangan,I Gusti Ngr Luh Abian Tubuh diperistri oleh I Gusti Agung Gede Blambangan,I Gusti Ngurah Tauman tinggal di Bukian(bernama I Gusti Ngurah Bukian),dan yang ketujuh I Gusti Ngurah Bukian yang tinggal di Subamia Tabanan.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Pacung Gede menjadi Penyeneng dan membangun Puri di Desa Payangan,kemudian beliau menurunkan tiga orang putra,yang pertama I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka menjadi penyeneng di Puri Payangan,yang kedua I Gusti Ngurah rai yang meninggalkan keratin ngungsi hutan yang sekarang disebut Desa Petang dan kemudian pindah ke Desa Pangsan,dan yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Taro yang tinggal di Desa Taro.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka lama tidak bisa menurunkan anak yang kemudian ngangkat anak dari anaknya I Gusti Agung Gede Blambangan,tapi setelah menginjak remaja kena sakit keras dan langsung meninggal,yang akhirnya ngangkat putra lagi dari putra Dalem Sukawati yang bernama Dalem Tampak siring.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Taro yang tinggal di Desa Taro terjadi salah paham dan berniat membrontak ke Puri Payangan,didengar niatnya I Gusti Ngurah Taro mau membrontak,maka Puri Payangan ditinggalkan ke Desa Kembangsari Bangli hanya beberapa bulan kemudian pergi ke Desa Samuan yang jaman dulu hutan belantara,dimana Putra angkatnya yang bernama Dalem Tampak Siring dititikan ke ayahnya. Diceriteraka disebelah utara Desa Samuan sudah ada dua kelompok orang yang tinggal bernama Mekel telugtug ( Trah Arya gajah Para ) dan I Gusti Ngurah Bebalang yang datang dari Banjar Bebalang Bangli.dan merekalah yang menjemput I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka untuk membangun Puri agak keutara ditengah tengah Desa yang disebut Kerajaan Panging Puspa yang diterjemah menjadi Desa Carangsari panging itu berarti carang puspa berarti sari.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka sudah bisa menurunkan putra dimana putra yang Pertama bernama I Gusti Ngurah Tabuana,menjadi penyeneng yang beristana di Saren Tegeh,yang kedua I Gusti Ngurah Bebalang di Saren Kaleran yang menurunkan dua orang putri bernama I Gusti Ayu Ajol dan I Gusti Ayu Made Ajol kemudian putung,yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Duma disaren kelodan juga putung  yang keempat I Gusti Ngurah Abian yang bertempat Saren Kawan yang mempunyai dua orang putra yaitu I Gusti Ngurah Putu Abian, I Gusti Ngura Made Abian(Nyentana Kelebok ),yang ke tiga I Gusti Ngurah Nyaman Abian (ke Jeroan Sekarmuti ),dan Putra ke lima dari I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka bernama I Gusti Ngr Anom bekung seda truna.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Putu Abian mempunyai dua orang putra yang pertama I Gusti Ngurah Abian dan I Gst Ngr Rai Abian (nyentana kekarang Lanang Dauh Sakti ),yang kemudian I Gusti Ngurah Abian yang tinggal di Saren Kawan Putung ( kosong ),dan sekarang rumah jero dauhlah yang jero kawan.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Rai yang tinggal di Pangsan mempuyai putra 7 orang,yang pertama I Gusti Ngr Gianyar,kedua I Gusti Ngr Tamu,yang ke tiga I Gusti Ngr Tauman,yang keempat I Gusti Ngr Pengumpian yang ngungsi ke Desa Sibang membangun Puri di pengumpian Sibang,yang kelima I Gusti Ngr Puseh yang keenam I Gusti Ngr Kerobokan dan yang ketujuh I Gusti Ngr.Dangin.
Diceriterakan I Gusti Ngr Taro diserang oleh Dalem Tampak Siring kemudian kalah terus lari ngungsi desa Buangga Getasan.anak anaknya lari entah kemana belum diketahui.
Diceriteraka pemadegan I Gusti Ngurah Tabuana mempunyai dua orang putra yang bernama I Gusti Ngurah  Rai dan yang kedua I Gusti Ngurah Agung ini yang meninggal dipantai seseh mengwi yang kemudian dikubur di tiyingan dan dibuatkan pelinggih di Auman.
Kemudian I Gusti Ngurah  Rai menggantikan ayahnya menjadi penyeneng yang menurunkan tiga orang putra,yang pertama bernama I Gusti Ngurah Gede,yang kedua I Gusti Ngurah Putu Rai dan yang ketiga bernama I Gusti Ayu Nyoman Rai yang diperistri di Griya Gede Carangsari.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Gede mempunyai tiga orang putra yang pertama bernama I Gusti Ngurah Gede Putu,yang menjadi Penyeneng di Saren Tegeh,dan yang kedua bernama I Gusti Ngurah Rai Membangun Puri  di Kerta kemudian ke Puri Petang Yang sekarang.
Diceriterakan I Gusti Ngurah Gede Putu mempunyai tiga orang putra yang pertama I Gusti Ayu Oka yang kawin ke Puri Marga,yang kedua I Gusti Ngurah Gede tinggal di saren Kaje dan yang ke tiga I Gusti Ngurah Nyoman yang menjadi penyeneng di Saren Tegeh mengingat kakaknya Yang bernama I Gusti Ngurah Gede menderita cacat tubuh ( Mala ).
Diceriterakan I Gusti Ngurah Rai yang membangun Puri di Puri Petang mempunyai dua orang putra yang pertama I Gusti Ngurah Alit dan yang kedua I Gusti Ayu Rai.
.
Demikian ringkasan singkat kisah perjalanan Ida Ratu Betara Ksatrya Dalem Amangku Bumi Sri Arya Sentong selama di Bali,dan sampai sekarang pewaris kerajaan berupa Pusaka Ki Sekar Sandat dan Ki Ulang ulang Guguh ditempatkan di tengah tengah pulau Bali yaitu Di Puri Carangsari yang di sebut sebagai Pusat Kawitan seluruh warih yang berada di seluruh Nusantara.

                                                                                Carangsari, 24 Juli 2015
                                                                 Pelaksana harian Puri Carangsari
                                                                            Pinandita Agung



                                                                ( I Gusti Ngurah Pastika S.Sos )