Alkisah
Perjalanan Sri Arya Sentong dengan Ki Pasek Prenatha.
Terkisahkan
di jaman dahulu Ri saka 1047-1125 Masehi berdirilah kerajaan di Bali yang
bertempat di Gegel, raja pada waktu itu
bernama Paduka Prabu Sri Arya Kahoripan yang didampingi oleh adiknya yang
bernama Sri Arya Sentong dan Sri Arya Damar dimana Sri Damar diangkat sebagai
Adipati raja Gegel.
Diceriterakan
Paduka prabu Sri Arya Kahoripan, Sri Arya Sentong dan Sri Arya Damar
memperistri tiga putri dari Brahmana Ketepeng Reges dimana ketiga putri itu
tiga Brahmani bersaudara, Brahmani yang pertama diperistri oleh Sang Prabu
Kahoripan, Brahmani yang kedua diperistri oleh Sri Arya Damar dan Brahmani yang
ketiga diperistri oleh Sri Arya Sentong.Tidak lama kemudian diceriterakan
ketiga Brahmani sama-sama menurunkan seorang putra dimana putra Prabu Kahoripan
bernama Sri Ratu Anom, Putra Arya Damar bernama Sri Arya Yasan dan Putra Sri Arya
Sentong bernama Sri Arya Pacung.
Diceriterakan
ketiga putra-putra tersebut sudah berumur 3 tahun dimana saat itu sedang
dibangunnya Pura besakih. Sedangkan ketiga putra tersebut diemban oleh sang
denawa yang bernama Kebo Lawean,putra Sang Prabu Kahoripan Sri Ratu Anom
digendong di baunya,putra Sri Arya Damar Sri Arya Yasan digendong di lengan
kanannya dan putra Sri Arya Sentong Sri Arya Pacung digendong ditangan kirinya
diajak menghadap betara siwa.
Diceriterakan
Sang Prabu kahoripan yang diiringi para punggawa dan baudanda dan para pepatih
meninjau pembangunan pura Besakih,dimana sudah dibangun pondasi pelinggih padma
tiga dan kemudian Ida Sang Prabu Kahoripan dikagetkan oleh sang Kebo Lawean
beserta putra putra sang prabu diturunkan di pondasi Padma tiga tersebut,dan di
dasar padma tiga itulah ke tiga putra sang prabu berdiri Sri Ratu Anom Berdiri
Di tengah,Sri Arya Yasan Berdiri Di Kanan dan Sri Arya Pacung berdiri di
kiri,dan saat itulah sang prabu bersabda dihadapan para pengikutnya menerangkan
bahwa anak anaknya itulah dipakai lambang dalam padma tiga, Sri Ratu Anom di
tengah,Sri Arya Yasan dikanan dan Sri Arya Pacung dikiri.
Tidak
lama kemudian terkisahkan rakyat Bali tertimpa musibah dan banyak rakyat Bali
meninggal dan menghilang bagaikan ditelan bumi, sehingga diutuslah Sri Arya
Sentong untuk mengatasi masalah yang terjadi menimpa rakyat Bali, dan berangkatlah
Sri Arya Sentong beserta keluarga dan beberapa pengikutnya dengan membawa
sebilah keris pusaka yang bernama Ki sekar sandat, sesampainya di pantai Lebih
tidak diduga bertemulah Sri Arya Sentong dengan Ida Betara Kala dan bersabda “Wahai
Sri Arya Sentong engkau hendak kemana ini hamba menganugerahi sebilah Tombak
yang hamba cabut dari taring hamba dan tombak ini hamba beri nama Ki
Ulang-ulang Guguh dan hamba beritahukan dengan membawa pusaka ini bagaimanapun
saktinya musuh yang menghadang janganlah mau minggir, dan hamba mohon janganlah
pergi meninggalkan Bali”. Sri Arya Sentong Umatur ”Singgih Paduka Betara, maafkanlah
hambamu ini sebetulnya hamba mau kembali ke Jawa, karena mendengar sabda
Bertara niat hamba ,jadi hamba batalkan, dan hamba mau pamit akan melanjutkan
perjalanan”.
Terkisahkan
Sri Arya Sentong perjalanannya telah sampai di Nusa, setelah berselang tiga
bulan berada di Nusa datanglah utusan dari Puri Gegel untuk menyampaikan pesan
raja agar Sri Arya Sentong balik ke Puri Gegel, karena mengingat sabda Sang
Prabu kepada Sri Arya Sentong dimana Sabdanya adalah; Wahai adiku Sri Arya
Sentong kalau keberadaan Puri Gegel tidak melanjutkan keturunan (Putung), maka
keturunan Sri Arya Sentong untuk melanjutkan kerajaan Gegel, dan hamba
mengangkat Sri Arya Penatih sebagai Adipati demikianlah sabda Sang Prabu
Kahoripan yang diucapkan di depan para patih baudanda tanda mantri.
Terkisahkan
utusan sang prabu tidak dipenuhi oleh Sri Arya Sentong dan beliau bersabda; Wahai
paman kembalilah ke Gegel dan katakan hamba tidak akan kembali ke Gegel dan
hamba hendak kembali ke Jawa..
Diceriterakan
Sri Arya Sentong tinggal di Nusa sudah 30 tahun, dan putra Sri Arya Sentong
yang bernama Sri Arya Pacung sudah berkeluarga dan menurunkan seorang putra
bernama Sri Arya Putu yang bergelar I Gusti Ngurah Putu Pacung.
Terkisahkan
Sri Arya Pacung mendapatkan tugas untuk mencari tengah-tengah Bali dan berangkatlah
beliau beserta keluarga dan diiringi oleh beberapa pengikutnya dan lengkap membawa
pusaka Ki Sekar sandat dan Ki Ulang-ulang Guguh.
Diceriterakan
dalam perjalanan beliau bertemu dengan pasukan I Gst.Ngr Jelantik Blahbatuh, hingga
pertempuran tidak terelakan lantaran dalam perjalanan tak mau minggir, sehingga
pasukan I Gst.Ngr. Jelantik jadi murka dan pertempuran berlanjut sampai
keduanya kelelahan karena sama-sama kebal, sehingga keduanya saling bertanya,I
Gst.Ngr.Jelantik ngawali bertanya wahai tuan dari manakah gerangan dan siapa
namamu begitu sakti tidak terluka oleh senjata sedangkan hamba ini adalah I
Gst.Ngr.Jelantik Blahbatuh, Putra Sri Arya Sentong menjawab wahai Ngr.Jelantik
hamba adalah Sri Arya Pacung putra dari Sri Arya Sentong, karena tahu
bersaudara dan sama-sama sakti akhirnya bersalaman dan saling bertukaran
pepetet (Sabuk), sabuk Poleng jelantik diberikan Putra Arya Sentong dan Sabuk
putihnya Sri Arya Pacung diberikan Arya Jelantik.
Dikisahkan
putra Sri Arya Sentong melanjutkan perjalanan dan tempat pertempuran Putra Arya
Sentong dengan Arya Jelantik diberi nama Marga Sengkala karena pertempuran
terjadi ditengah jalan.
Diceriterakan
dari Marga Sengkala putra Sri Arya Sentong melanjutkan perjalanan yang diiringi
oleh pengikutnya dimana salah satu pengikutnya bernama Ki Pasek Prenata/Mpu
Prenata, dimana perjalanan beliau menuju ke arah barat.
Terkisahkan
perjalanan beliau sampailah di Palwa Negara, disanalah beliau beristirahat
dipinggir sungai penet, di sana dia menemukan Wulakan dan disekitarnya banyak
terdapat pohon gatep, disanalah beliau melaksanakan tapa barata yoga semadi, lalu
terdengar adanya sabda akasa: Wahai engkau
putra Sri Arya Sentong lanjutkanlah perjalananmu ke arah utara disana nantinya
kalian akan mendapatkan kebahagiaan, demikianlah sabda yang didengar, putra Sri
Arya Sentong yang bernama Sri Arya Pacung cukup lama bersemedi disana, dan
beliau memberinama wulakan itu Kayuan Watan Gatep,ri saka 1185 atau 1263 M, ada
sebuah batu seliwah berwarna merah kehitam-hitaman sebagai tempatnya
awiduh/makan sirih, disana beliau membuat pemujaan Betara Nusa sebagai ucapan
terima kasihnya kehadapan beliau dalam memberikan anugerahnya.
Selanjutnya
putra Sri Arya Sentong bersama dengan Ki Pasek Prenatha disebelah utara ulakan
ada sebuah kundi di Desa kapal di sana beliau mandi bersama dengan Ki Pasek
Prenatha, namun setelah ia mendekat dengan air pancuran, tiba-tiba air pancuran
tak lagi bergerak pariabel, gerakan air berbentuk sudut Sembilan puluh derajat,
melihat peristiwa yang secara tiba-tiba itu, maka pancuran itu diberinama
pancuran Empak yang lebih dikenal dengan nama pancuran Rempak, disanapun beliau
membuat pemujaan Betara Nusa, dan putra Sri Arya Sentong melanjutkan
perjalanannya menuju ke arah Barat Laut yaitu melewati Alas kekeran sampai ke
Alas kedaton sehingga berlanjut beristirahat ( Merarian ) di alas angker karena
merasa nyaman sehingga disanalah beliau membangun Puri yang disebut dengan Puri
Perean atau Desa Perean,dan disebelah timur puri dipinggir sungai beliau
membangun sebuah pura taman yeh gangga.
Diceriterakan
setelah berdirinya Puri Perean di abad
ke 12 dengan penyenengan Sri Arya Pacung,banyak Pura yang beliau bangun seperti
Pura Pucak Sari,Pucak Sangkur,Pucak Apuan,Pucak Padang Dawa,Pucak Kembar dan
Pura Teratae Bang.
Di
Ceriterakan Putra Sri Arya Pacung yang bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung,cucu
dari Sri Arya Sentong sudah berkeluarga menggantikan ayahnya menjadi penyeneng
di Puri Perean yang menurunkan tiga orang putra; yang pertama bernama I Gusti
Ngurah Gede Pacung,yang kedua bernama I Gusti Ngurah Made Pacung dan yang
Ketiga bernama I Gusti Ngurah Nyoman Pacung.
Dikisahkan
I Gusti Ngurah Gede Pacung menggantikan Ayahnya menjadi penyeneng,adiknya I
Gusti Ngurah Made Pacung di utus ke Puri Tambangan Badung dan diangkat menjadi
adipati,dan I Gusti Ngurah Nyoman Pacung diutus ke Puri Gelgel.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Gede Pacung menurunkan seorang putra yang bernama I Gusti Ngurah
Gede Raka Pacung dan beliau menggantikan ayahnya menjadi penyeneng yang
kemudian menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ngurah Putu Pacung.yang juga
sebagai pengganti Ayahnya menjadi penyeneng menurunkan dua orang putra yan
pertama bernama I Gusti Ngurah Pacung Gede dan Yang ke dua I Gusti Ngurah Rai.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Pacung Gede menurunkan empat orang putra
Yang
pertama bernama I Gusti Ngurah Pacung Sakti,ke dua I Gusti Ngurah Made Buleleng
yang tinggal di Desa Sembung,yang ke tiga I Gusti Ngurah Nyoman Bayam pindah ke
Denbukit Petemon Singaraja dan yang keempat I Gusti Ngurah Babahan ke Desa
Bluangan langsung ngungsi Denbukit Singaraja.Diceriterakan I Gusti Ngurah
Nyoman Bayam dan I Gusti Ngurah Babahan yang tinggal di Desa Petemon yang sebagian
besar menurunkan warih yang berada di Singaraja ( Di Kabupaten Buleleng ).
Diceriterakan
penyeneng Puri Perean I Gusti Ngurah Pacung Gede Yang digantikan oleh anaknya
yang tertua yaitu I Gusti Ngurah Pacung Sakti.
Terkisahkan
pemadegan I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang mempunyai seorang abdi yang bernama I Papak,dimana dia berasal dari Desa
Kintamani yang pindah tinggal di Desa Sembung dan ayahnya bernama I Ungasan
trah dari Sri Arya Damar ( Arya Kenceng ),seorang I Papak jari tangannya tapak
( gempel ),di mana I Papak menjadi abdi yang sangat berbakti kepada penyeneng
Puri Perean dan dia sangat disayang oleh raja.
Diceriterakan
diwilayah kekuasaan Puri Perean yang letaknya dihutan angker di cau ada sebuah
pedukuhan yang dihuni oleh Ki Dukuh Titi Gantung,dimana I Papak diperintahkan
untuk membunuh Ki Dukuh Titigantung oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti dengan
alasan karena saat I Gusti Ngurah Pacung Sakti bersama I Papak mampir kerumah
Ki Dukuh diberikan Bahisan ( Suguhan habis upacara ),karena itulah permaesuri
raja tidak terima dianggap Ki Dukuh bersalah,maka diutuslah I Papak untuk
membunuhnya.
Terkisahkan saat I Papak menjalankan tugasnya untuk
membunuh Ki Dukuh
Dan
berkata kepada Ki Dukuh”wahai engkau Ki Dukuh hamba datang kesini diperintahkan
untuk membunuh dirimu oleh Gusti junjunganku I Gusti Ngurah Pacung Sakti karena
dirimu dianggap salah telah memberikan beliau bahisan suguhan habis upacara
sehingga permaisuri jadi marah”dan perkataan I Papak membuat Ki Dukuh sangat
kaget dan berkata”Wahai engkeu Papak hamba tidaklah takut mati,apalagi hamba
telah dituduh memberikan bahisan/suguhan habis upacara itu sudah jalannya hamba
untuk mati,tapi engkau tidaklah mampu membunuh hamba dengan keris yang engkau
bawa biarpun semua keris yang berada di Puri tidak akan mempan untuk membunuh
hamba,tapi begini wahai engkau Papak hamba akan siap mati,tolong sampaikan
pesan hamba dengan I Gusti Ngurah Pacung Sakti nanti setelah hamba mati dan ini
keris hamba Ki Barubantal pake membunuh hamba,setelah hamba mati tolong mayat
hamba agar dikubur dalam keadaan berdiri,”karena hamba akan melihat tujuh
keturunan beliau agarruntik pasemetonan,karena belaulah yang membuatkan hamba
tempat dinirwana,dan siapa yang membawa KERIS KI BARUBANTAL milik hamba maka
dialah yang akan menjadi penguasa disebelah barat sungai penet”.Dan apa yang
disampaikan olek Ki Dukuh dilaksanakan oleh I Papak,dan disampakanlah pesannya
Ki Dukuh kepada I Gusti Ngurah Pacung Sakti.Setelah mendengar pesan Ki Dukuh
seperti itu yang disampaikan oleh I Papak maka I Gusti Ngurah Pacung Sakti
kaget dan merasa bersalah telah menyuruh membunuh Ki Dukuh,yang akhit beliau
marah kepada istrinya,karena gara gara istrinyalah beliau menjadi emosi,saat
itu juga I Gusti Ngurah Pacung Sakti bersabda
wahai engkau saudaraku serta semua keturunanku siapa saja yang memperistri trah
Arya penatih hamba pasti agar rusak dalam keluarga “.
Di ceriterakan di Puri Perean I Gusti
Ngurah Pacung Sakti mempunyai `seorang selir yang bernama Ni Luh Padang Aling
yang berasal dari Padangaling,dan Ni Luh Padang Aling sedang hamil tapi belum
di ketahui oleh seisi Puri.Di Ceriterakan I Papak mempunyai saudara (kakak)
yang tinggal di Desa Sembung bernama I Gede Ungasan yang telah dibunuh pada
saat beliau sedang sabungan ayam olek Ki Pasek Sembung, yang akhirnya I Papak
berkeinginan untuk balas dendam,sehingga I Papak bergegas menghadap dengan Sang
Prabu I Gusti Ngurah Pacung Sakti dan berkata”Wahai Ratu Sang Prabu hamba
berkeinginan meminjam salah satu keris milik Sang Prabu untuk hamba pakai
membalaskan dendam kakak hamba yang telah dibunuh diarena judi sabungan
ayam,yang kemudian Sang Prabu berkata”wahai engkeu Papak silahkan engkau ambil
di Gedong disana ada keris berjejer tiga yang paling timur adalah keris Ki
Barubantal milik Ki Dukuh itu jangan diambil yang paling tengah engkau
ambil,dan I Papak mengikuti perkataan Sang Prabu untuk mengambil keris yang
ditengah,tapi sampai tiga kali dimabil paling tengah tapi diambil tetaplah
paling timur yang diambil,akhirnya sang prabu bersabda memang I Papaklah yang
memiliki Keris Ki Barubantal,dan langsung sang prabu menyuruh I Papak membawa
keris tersebut untuk dibawa berperang juga I Papak diberikan pengiring 10 KK
untuk membantunya membalaskan dendam kakaknya.yang kemudian I Papak berhasil
membalas dendam,setelah itu tidak kembali dia ke Puri,tapi dia langsung
ngerambah hutan di hutan klaci disanalah I Papak mendirikan rumah bersama
pengikutnya yang 10 orang.
Diceriterakan keberadaan I Gusti Ngurah
Pacung Sakti di Puri Perean yang sedang gelisah memikirkan I Papak yang lama
tidak kembali ke puri ,kemudian disuruhlah seorang utusan untuk mencari I Papak
yang akkhirnya I Papak ditemukan sudah mempunyai rumah di hutan klaci,yang
kemudian sang utusan berkata”wahai engkeu Papak hamba diutus untuk mencari
dirimu untuk balik ke Puri Perean oleh ida sang prabu”dan I Papak berkata wahai
engkau utusan tolong beritahusang prabu bahwa hamba tidak akan balik ke Puri
dan bilang hamba akan tetap berbakti dari sini terhadap sang prabu.dan kemudian
apa yang disampaikan I Papak disampaikan kepada I Gusti Ngurah Pacung Sakti.Di
ceriterakan keberdaan Ni Luh Padang Aling selir ida sang prabu yang sedang hamil,yang akan diberikan I Papak
untuk menikahinya,kemudian dipanggilah I papak untuk menhadap ke Puri
Perean,dan I Gusti Ngurah Pacung Sakti bersabda kepada I Papak”Wahai engkau Papak
ini selih hamba Ni Luh Padang Aling sedang hamil hamaba berikan dirimu untuk
menikah dengannya,tapi hamba mohon rawatlah dia dan bayi yang ada dalam kandungan
NI Luh Jepun,dan juga hamba mohon kepadamu sebelum bayi itu lahir janganlah
engkau tidur bersama dengan Ni Luh Padang Aling,mengingat karena I Papak sangat
subakti apa yang dikatakan sang Prabu dia ikuti.Diceriterakan I Papak sudah
menikahi NI Luh Padang Aling dan diajak kerumahnya yang diberi nama Desa Marga,
Diceriterakan
hamilnya Ni Luh Padang Aling sudah berumur enam bulan disuruh oleh I Papak
suaminya untuk dilukat/dibersihkan ke
sang sulinngih ( Ida Pedanda ) tempatnya di Desa Cau ( Griya Manuaba Cau ) yang
kemudian Ida Pedanda Grya Cau Keasmaran melihat kecantikan Ni Luh Padang Aling,akhirnya
keberadaan Pedanda dilaporkan kepada I Gusti Ngurah Pacung Sakti,maka mendengar
laporan I Papak membuat sang prabu jadi marah,kemudian diprintahlah I Papak
agar membunuh Ida Pedanda,yang akhirnya dibunuhlah Ida Pedanda.
Diceriterakan
adik dari I Gusti Ngurah Pacung Sakti yang bernama I Gusti Ngurah Made Buleleng
beliau tinggal di Desa Sembung,dimana beliau berkeinginan untuk membrontak ke
Puri Perean bersama dengan mekel Sembung,kemudian keinginan I Gusti Ngurah
Buleleng didengar oleh I Gusti Ngurah Pacung Sakti,dan mendengar puri Perean
akan diserang jadi Puri Perean dalam keadaan siaga,lama ditunggu tunggu tidak
ada serangan sampai keadaan menjelang malam,tapi saat I Gusti Ngurah Pacung
Sakti berada diluar Puri tiba-tiba saja I Gusti Ngurah Made Buleleng menikamnya
dengan keris dari belakang,yang akhirnya I Gusti Ngurah Pacung Sakti
meninggal,jasadnya langsung dikubur dengan bongkahan tembok kemudian tiba tiba
saja kuburannya meledak muncul seekor NAGA KAANG bersayap yang di kendarai oleh
jasad I Gusti Ngurah Pacung Sakti terbang menuju Nirwana,dan Puri Perean di
Kuasai oleh I Gusti Ngurah Made Buleleng,yang kemudia I Gusti Ngurah Buleleng
di serang oleh I Papak beserta putranya Ni Luh Jepun yang ceriteranya sudah
menjelang dewasa yang diberi nama I Darya ( nama berasal dari kata Ida dan Arya
),kemudia I Gusti Ngurah Buleleng kalah dan lari ke Keliki Payangan.
Diceriterakan
putra putra I Gusti Ngrurah Pacung Sakti beserta adik adiknya meninggalkan Puri
perean diantaranya I Gusti Ngurah Pacung Gede,I Gusti Ngurah Rai,I Gusti Ngurah
Abian Tubuh ini nyentana ke I Gusti Ngurah Sampalan Ubud, I Gusti Ngurah Negah
Abian Tubuh ini tinggal di Bluangan,I Gusti Ngr Luh Abian Tubuh diperistri oleh
I Gusti Agung Gede Blambangan,I Gusti Ngurah Tauman tinggal di Bukian(bernama I
Gusti Ngurah Bukian),dan yang ketujuh I Gusti Ngurah Bukian yang tinggal di
Subamia Tabanan.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Pacung Gede menjadi Penyeneng dan membangun Puri di Desa
Payangan,kemudian beliau menurunkan tiga orang putra,yang pertama I Gusti
Ngurah Pacung Gede Oka menjadi penyeneng di Puri Payangan,yang kedua I Gusti
Ngurah rai yang meninggalkan keratin ngungsi hutan yang sekarang disebut Desa
Petang dan kemudian pindah ke Desa Pangsan,dan yang ketiga bernama I Gusti
Ngurah Taro yang tinggal di Desa Taro.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka lama tidak bisa menurunkan anak yang kemudian
ngangkat anak dari anaknya I Gusti Agung Gede Blambangan,tapi setelah menginjak
remaja kena sakit keras dan langsung meninggal,yang akhirnya ngangkat putra
lagi dari putra Dalem Sukawati yang bernama Dalem Tampak siring.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Taro yang tinggal di Desa Taro terjadi salah paham dan berniat
membrontak ke Puri Payangan,didengar niatnya I Gusti Ngurah Taro mau
membrontak,maka Puri Payangan ditinggalkan ke Desa Kembangsari Bangli hanya
beberapa bulan kemudian pergi ke Desa Samuan yang jaman dulu hutan
belantara,dimana Putra angkatnya yang bernama Dalem Tampak Siring dititikan ke
ayahnya. Diceriteraka disebelah utara Desa Samuan sudah ada dua kelompok orang
yang tinggal bernama Mekel telugtug ( Trah Arya gajah Para ) dan I Gusti Ngurah
Bebalang yang datang dari Banjar Bebalang Bangli.dan merekalah yang menjemput I
Gusti Ngurah Pacung Gede Oka untuk membangun Puri agak keutara ditengah tengah
Desa yang disebut Kerajaan Panging Puspa yang diterjemah menjadi Desa
Carangsari panging itu berarti carang puspa berarti sari.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Pacung Gede Oka sudah bisa menurunkan putra dimana putra yang
Pertama bernama I Gusti Ngurah Tabuana,menjadi penyeneng yang beristana di
Saren Tegeh,yang kedua I Gusti Ngurah Bebalang di Saren Kaleran yang menurunkan
dua orang putri bernama I Gusti Ayu Ajol dan I Gusti Ayu Made Ajol kemudian
putung,yang ketiga bernama I Gusti Ngurah Duma disaren kelodan juga putung yang keempat I Gusti Ngurah Abian yang
bertempat Saren Kawan yang mempunyai dua orang putra yaitu I Gusti Ngurah Putu
Abian, I Gusti Ngura Made Abian(Nyentana Kelebok ),yang ke tiga I Gusti Ngurah
Nyaman Abian (ke Jeroan Sekarmuti ),dan Putra ke lima dari I Gusti Ngurah
Pacung Gede Oka bernama I Gusti Ngr Anom bekung seda truna.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Putu Abian mempunyai dua orang putra yang pertama I Gusti Ngurah
Abian dan I Gst Ngr Rai Abian (nyentana kekarang Lanang Dauh Sakti ),yang
kemudian I Gusti Ngurah Abian yang tinggal di Saren Kawan Putung ( kosong ),dan
sekarang rumah jero dauhlah yang jero kawan.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Rai yang tinggal di Pangsan mempuyai putra 7 orang,yang pertama
I Gusti Ngr Gianyar,kedua I Gusti Ngr Tamu,yang ke tiga I Gusti Ngr Tauman,yang
keempat I Gusti Ngr Pengumpian yang ngungsi ke Desa Sibang membangun Puri di
pengumpian Sibang,yang kelima I Gusti Ngr Puseh yang keenam I Gusti Ngr
Kerobokan dan yang ketujuh I Gusti Ngr.Dangin.
Diceriterakan
I Gusti Ngr Taro diserang oleh Dalem Tampak Siring kemudian kalah terus lari
ngungsi desa Buangga Getasan.anak anaknya lari entah kemana belum diketahui.
Diceriteraka
pemadegan I Gusti Ngurah Tabuana mempunyai dua orang putra yang bernama I Gusti
Ngurah Rai dan yang kedua I Gusti Ngurah
Agung ini yang meninggal dipantai seseh mengwi yang kemudian dikubur di
tiyingan dan dibuatkan pelinggih di Auman.
Kemudian
I Gusti Ngurah Rai menggantikan ayahnya
menjadi penyeneng yang menurunkan tiga orang putra,yang pertama bernama I Gusti
Ngurah Gede,yang kedua I Gusti Ngurah Putu Rai dan yang ketiga bernama I Gusti
Ayu Nyoman Rai yang diperistri di Griya Gede Carangsari.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Gede mempunyai tiga orang putra yang pertama bernama I Gusti
Ngurah Gede Putu,yang menjadi Penyeneng di Saren Tegeh,dan yang kedua bernama I
Gusti Ngurah Rai Membangun Puri di Kerta
kemudian ke Puri Petang Yang sekarang.
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Gede Putu mempunyai tiga orang putra yang pertama I Gusti Ayu
Oka yang kawin ke Puri Marga,yang kedua I Gusti Ngurah Gede tinggal di saren
Kaje dan yang ke tiga I Gusti Ngurah Nyoman yang menjadi penyeneng di Saren
Tegeh mengingat kakaknya Yang bernama I Gusti Ngurah Gede menderita cacat tubuh
( Mala ).
Diceriterakan
I Gusti Ngurah Rai yang membangun Puri di Puri Petang mempunyai dua orang putra
yang pertama I Gusti Ngurah Alit dan yang kedua I Gusti Ayu Rai.
.
Demikian
ringkasan singkat kisah perjalanan Ida Ratu Betara Ksatrya Dalem Amangku Bumi
Sri Arya Sentong selama di Bali,dan sampai sekarang pewaris kerajaan berupa
Pusaka Ki Sekar Sandat dan Ki Ulang ulang Guguh ditempatkan di tengah tengah
pulau Bali yaitu Di Puri Carangsari yang di sebut sebagai Pusat Kawitan seluruh
warih yang berada di seluruh Nusantara.
Carangsari, 24 Juli 2015
Pelaksana harian Puri
Carangsari
Pinandita Agung
( I Gusti Ngurah Pastika S.Sos )
Puri anom carangsari
BalasHapuskalau boleh tau pedarman Arya Sentong di Pura Besakih dimana ya..
BalasHapusSuksma
Kalau menurut crita di atas jadinya
HapusDi penataran agung..
Bisa di baca lagi, pondasi dari padma 3 itu saudara'a arya sentong
Sesuai Prasasti Pura, Puri dan Purana Tidak ada istilah Pedarman Ida Sri Arya sentong termasuk Sapta Arya (Trah Satria Dalem Wet bet Wilwatikta Kerajaan Syunantara Pemujaan cukup di Nataran Pura Agung Besakih, karena apa yaitu Semenjak didirikan Pura Nataran Agung Besakih Abad 11 Oleh Sang Nata Wilwatikta Ida Betara Sri Aji Arya Kahoripan dan adik2nya Sapta Arya atas permohonan Bapa Ki Pasek Kayu Selem, tidak dijelaskan adanya Pedarman, Namun adanya pedarman setelah lenyapnya Dinasti kerajaan Gelgel,Raja terakhir (Raja ke II Gelgel/Putung) Ida Sri Arya Anom Kahoripan abad 12
BalasHapusAmpura niki sumbernya darimana?dan apakah ada niki lontar yg menceritakan sesuai dengan isi cerita/babad yg diatas niki?suksma
BalasHapusWenten......kalo mau dengar cerita niki...ngiring ke pesraman dalem giri ulangun ring puri carangsari
HapusCOBA DI PUBLIKASIKAN DUMUN
Hapusbukankah arya sentong mrupkan ekpdsi ke 2 ke bali di bawa oleh patih gajah mada yg menyrang raja bali barat stlah raja bali barat kalah mka arya knceng dan sntong menetap di bali d brikan mnjdi pmimpin bali d bgian barat dan d bwah kpemimpinan dalem? mhon pelurusan sjrahnya🙏🏼
BalasHapusTiang saking Arya sentong saking Mengwi with tiang saking tanjung bungkak kelaci salam kenal Semeton Arya sentong sebagai bali
BalasHapusAmpura niki tiang pernah baca artikel bahwa pura pucak bon adalah pura yang didirikan atau pura tempat bersemedi/bertapa dari tabik pekulun sri Arya Sentong. Mohon pencerahannya suksma
BalasHapusMohon maaf sebelumnya titiang arya sentong saking buleleng.
BalasHapusTiang mau tanya apakah ada sejerahnya dri puri perean sampe bisa ke puri carang sari?